Sabtu, 15 Juni 2013

PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG PENDIDIKAN



               Sistem pendidikan al-ghazali sangat dipengaruhi luasnya ilmu pengetahuan yang dikuasainya, sehingga dijuluki filosof yang ahli tasawuf (Failasuf al-Mutasawwifin)[1] Dua corak ilmu yang telah terpadu dalam dirinya itu kemudian turut mempengaruhi formulasi komponen-komponen dalam system pendidikannya. Ciri khas system pendidikannya al-Ghazali sebenarnya terletak pada pengajaran moral religious dengan tanpa mengabaikan urusan dunia [2]
1.      Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut al-Ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqorrub kepada Allah dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Sebab jika tujuan pendidikan diarahkan selain untuk mendekaykan diri kepada Allah, akan menyebabkan kesesatan dan kemudharatan. Al-Ghazali  berkata : “hasil dari ilmu sesungguhnya ialah mendekatkan diri kepada Allah, dan menghubungkan diri dengan para malaikat yang tinggi dan bergaul dengan alam arwah, itu semua adalah keberasan, pengaruh penerintahan bagi raja-raja dan penghormatan secara naluri”[3] Menurut al-Ghazali, pendekatan diri kepada Allah merupakan tujuan pendidikan. Orang dapat mendekatkan diri kepada Allah hanya setelah memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmi pengetahuan itu tidak akan diperoleh kecuali melalui pengajaran. Selanjutnya, dari kata-kata tersebut dapat difahami bahwa menuru al-Ghazali tujuan pendidikan dapat dibagi menjadi 2 yaitu tujuan jangka panjang dan pendek.
a.       Tujuan pendidikan jangka panjang
Adalah mendekatkan diri kepada Allah, pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju pengenalan dan kemudia pendekatan diri kepada Allah. Menurut konsep ini, dapat dinyatakan bahwa semakin lama seseorang duduk dibangku pendidikan, semakin bertambah ilmu pengetahuannya, maka semakin mendekat kepada Allah.
        Tentu saja untuk mewujudkan hal itu bukanlah system pendidikan yang memisahkan ilmu-ilmu keduniaan dari nilai-nilai kebenaran dan sikap religius , tetapi system pendidikan yang memadukan keduanya secara integral. System inilah yang mampu membentuk manusia yang mampu melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan dan system pemdidikan al-Ghazali mengarah kesana.
b.      Tujuan pendidikan jangka pendek
Adalah diraihnya profesi manusia sesui dengan bakat dan kemampuan nny. Syarat untuk mencapai tujuan itu manusia, mengembangkan ilmu pengetahuan baik yang fardu ‘ain dan fardu kifayah[4]

Kesimpulan tujuan pendidikan menurut al-Ghazali :
a.      Mendekatkan diri kepada Allah, yang wujudnya adalah kemampuan dan denfgan kesadaran diri melaksanakan ibadah wajib dan sunnah
b.      Menggali dan mengambangkan potensi atau fitrah manusia
c.      Mewujudkan profesionalisasi manusia untuk mengemban tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya
d.      Membentuk manusia yang berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela
e.      Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama sehingga menjadi manusia yang manisiawi
2.      Kurikulum Pendidikan
Pandangan al-Ghazali terhadap kurikulum dapat dilihat dari pandangan mengenai tentang ilmu pengetahuan. Kurikulum pendidikan yang disusun al-ghazali sesuai pandanganya mengenai tujuan pendidikan yakni mendekatkan diri kkepada Allah yang merupakan tolak ukur manusia. Untuk menuju kesana diperlukan ilmu pengetahuan
Mengurai kurikulum pendidikan menurut al-ghazali, ada dua hal yang menarik bagi kita. Pertama, pengklasifikasian terhadap ilmu pengetahuan yang sangat terperinci yang segala aspek yang terkait denganya. Kediua, pemikiran tentang manusia dengan segala potensi yang dibawanya sejak lahi. Semua manusia esensinya sama. Ia sudah kenal betul dengan pencipta sehingga selalu mendekat padanya dan itu tidak akan berubah.[5]
Al-ghazali mengklasifikasikan manusia adalah pribadi yang satu yang tidak dapat disamakan dengan pribadi yang lain. Tingkat pemahaman, daya tangkap, dan daya ingatnya terhadap ilmu pengetahuan, kemampuan menjalankan tugas hidupnya berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu dalam kaitanya dengan kurikulum al-ghazali mendasarkan pemikiranya bahwa kurikulum pendidikan harus disusun dan selanjutnya disampaikan kepada murid sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan psikisnya.
Selanjutnya al-ghazali membagi ilmu pengetahuan dari beberapa sudut pandang, yaitu :
a.      Berdasarkan pembidangan ilmu
Dibagi menjadi dua bidang, yaitu imu syari’ah sebagai ilmu terpuji terdiri atas : iilmu ushul, ilmu furu’, ilmu pengantar.muqoddimah, dan ilmu pelengkap. Yang kedua yaitu ilmu bukan syari’ah terdiri dari ilmu kedokteran, ilmu hitung, perttanian, pembangunan, tata pemerintahan, industry, kebudayaan, sastra, ilm,u tenun dan pengolahyan pangan
b.      Berdasarkan objek
Ilmu dibagi atas tiga kelompok, yaitu :
1.      Ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak baik sedikit ,maupun banya. Seperti, sihir, azimat, dan ilmu tentang ramalan nasib
2.      Ilmu pengetahuan yang terpuji. Seperti ilmu agama, dan ilmu tentang beribadat.
3.      Ilmu pengethuan yang dalam kadar tertentu terpuji tapi jika mendalmin ya tercela. Seperti dari filsafat naturalism. Menurut al-ghazali ilmu tersebut juka diperdalam akan menimbulkan kekacauan fikirann dan keraguan, sehingga mendorong manusia kepada kufur dan ingkar.[6]
c.      Berdasarkan status hukum mempelajarinya yang terkait dengan nilau guna.
Dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1.      fardu ain, yang wajib dipelajari setiap individu misalkan illmu agama dan cabang-cabangnya
2.      fardu kifayah, yaitu ilmu yang tidak diwajibjklan pada setiap muslim tetapi harus ada diantra orang muslim yang mempelajarinya. Misalkan ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, politik, dan pengobatan tradisional.
3.      Pendidik
Dalam hal ini al-ghozali berkata : “ makhluk yang paling mulia di muka bumi adalah manusia. Sedangkan yang paling mulia penampilanya ialah kalbunya. Guru atau pengajar se;a;u menyempurnakan, mengagungkan dan mensucikan kalbu itu serta menuntutnya untuk dekat kepada Allah”.[7]
                Dia juga berkata ;  “ seseorang yang berilmu dan kemuudian bekerja dengan ilmunya itu, dialah yang dinamakn oranbg besar dibawah kolong langit ini. Ia bagai matahari yang mencahayai orang lain, sedangkan ia sendiri pun bercahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain, ia sendiri pun harum,. “[8]

Menurut al-ghozali pendidik.guru memiliki sifat-sifat, yaitu[9] :
1.      Bertanggug jawab
2.      Sabar
3.      Duduk tenang penuh wibawa
4.      Tidak sombong terhadap semua orang, kecuali terhadap orang yang dolim dengan tuyjuan untuk menghentikan kiedolimanya.
5.      Mengutamakn bersikap tawadhu’ di majlis-majlis pertemuan
6.      Tidak suka bergurau dan bercanda
7.      Ramah terhadap para pelajar
8.      Teliti dan setia mengawasi anak yang nakal
9.      Setia membimbing anak yang bebal
10.   Tidak gampang marah kepada anak yang bebal dan  lambat pemikiranya
11.   Tidak malu berkata : saya tidak tau ketika ditanya persoalan yang belum ditekuninya.
12.   Memperhatikan murid yang bertanya dan berusaha menjawabnya dengan baik.
13.   Manerima alas an yang diajukan kepadanya
14.   Tunduk kepada kebenaran
15.   Melarang murid yang mempelajari ilmu yang membahayakan.
16.   Memperingatkan murid mempelajari ilmu agama tetapi untuk kepentingan selain Allahg
17.   Memperingatkan murid agar tidak sibuk mempelajari ilmu fardu kifayah sebelum selesai dengan mempelajari ilmu fardu ain
18.   Memperbaiki ketaqwaaanya kepada Allah
19.   Mempraktekkan makna  taqwa dalam kehidupan sehari-harinya ssebelum memerintahkan kepada murid agar murid mengikuti perbuatanya dan agar murid mrngambil manfaat ucapan-ucapanya.

4.      Peserta didik
Al-ghazali berkata : “ Seorang pelajar hendaknya tidak menyobongkan diri dengan ilmunya dan jangan menentang gurunya. Tetapi menyerah sepenuhnya kepada guru dengan keyakinan kepada segala nasihatnya sebagaimana seoorang sakit yang bodoh yakin kepada dokter yang ahli dan berpengalaman. Seharusnya seorang pelajar itu tunduk kepada gurunya, mengaharap pahala dan kemuliaan dengan tunduk kepadanya.”[10]
Sedangkan peserta didik menurut al-ghozali dalam bidayatul hidayah adalah sebagai berikut [11]:
1.      Hendaknya member ucapan salam kepada guru terlebih dahulu
2.      Tidak banyak bicara dihadapanya
3.      Tidak berbiicara selagi tidak ditnya gurunya
4.      Tidak bertanya sebelum memintya izin terlebih dahulu
5.      Tidak menentang ucapan guru dengan ucapan (pendapat) orang lain
6.      Tidak menampakkan penentanganya terhadap pendapatr gurunya, apalagi menganggap gurunya paling pandai dari gurunya
7.      Tidak boleh berisik kepada teman yang duduk disebelahnya ketika guru sedang berada dalam majlis itu
8.      Tidak menoleh-noleh ketika sedang berada di depan gurunya., tettapi harus menundukkan kepala dan tengang seperti dia sedang melakukan shalat
9.      Tidak banyak bertanya kepada guru, ketika dia dalam keadaan letih
10.   Hendaknya berdiri ketika gurunya berdiri dan tidak berbicara denganya ketika dia sudah berabjak dari tempat duduknya
11.   Tidak mengajukan pertanyaan kepadda guru ditengah perjalananya
12.   Tidak berprangkan buruk pada guru ketika ia melakukan perbuatan yang dhohitnya munkar, sebab dia lebih mengetrahui rahasis (perbuatanya)
5.      Media dan Metode
6.      Proses


[1] A. Hanafi, Pengantar Filsafat Islam (Jakarta; Bulan Bintang 1976) Hal 197
[2] Fatiah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan versi al-Ghazali, Bandung; PT al-Ma’arif, 1986, hal 24
[3] Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Juz 1 Masyhadul Husaini. Hal 13
[4] DRS. Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan . Yogyakarta; Pustaka Pelajar. 1998. Hal 59
[5] Ibid. hal. 90
[6] Jaluddin dan usman said, Filsafat pendidikan Islam, (Jakarta : rajawali pers, 1994). Hal. 142-143
[7]  Ibid. Al-ghazali,hal. 14
[8] Ibid.
[9]  Imam abu hamid Al-ghazali, Bidayatul hidayah, penerjemah HM. Fadil saad. (Al-hidayah:Surabaya) hal. 182
[10] Ibid Al-ghozali juz 1 hal. 49-50
[11] Ibid  hal 183-184

Tidak ada komentar:

Posting Komentar