Senin, 02 Januari 2012

KARAKTER RASA AGAMA PADA REMAJA DAN IMPLIKASINYA



 
A.    PENGANTAR
Ada beberapa definisi rasa agama yang telah disampaikan oleh ahli psikologi. Rasa agama menurut Clark adalah pengalaman bathin dari seseorang ketika ia merasakan adanya tuhan, khususnya bila efek dari pengalaman itu terbukti dalam bentuk perilaku, yaitu ketika ia secara aktif berusaha menyesuaikan hidupnya dengan tuhan[1]. Sementara itu, rasa agama menurut Dra. Susilaningsih[2], adalah kristal kristal rasa agama yang ada dalam diri manusia sebagai produk dari proses internalisasi nilai nilai agama melalui proses mengalami, continue, konsisten dan berkelajutan.
Penanaman nilai nilai keagamaan menyangkut konsep tentang ketuhanan, semenjak usia dini mampu membentuk religiositas anak mengakar secara kuat pada masa remaja dan mempunyai pengaruh sepanjang hidup. Pada teori Harms, dinyatakan bahwa pemahaman anak tentang tuhan melalui tiga fase, dan masa remaja adalah masa yang mengalami fase individualistic stage. Dua situasi yang mendukung perkembangan rasa agama pada usia remaja adalah kemampuannya untuk berfikir abstrak dan kesensitifan emosinya.
Pada masa remaja, anak masuk ke dalam tahap pendewasaan, dimana hati nurani (conscience) sudah mulai berkembang melalui pengembangan dan pengayaan. Proses kerja hati nurani dibantu oleh gejala jiwa yang lain yang disebut rasa bersalah (guilt) dan rasa malu (shame), yang akan muncul setiap kali ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Kata hati, rasa bersalah dan rasa malu dalam perkembangan religiousitas adalah mekanisme jiwa yang terbentuk melalui proses internalisasi nilai nilai keagamaan pada usia anak, yang akan berfungsi sebagai pengontrol perilaku pada usia remaja. Hati nurani mulai mengambil peran pada masa remaja yang juga membantu dalm proses pemilikan pandangan hidup yang akan menjadi dasar dasar pegangan hidupnya dalam bermasyarakat.
Dalam  pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki masa Progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa juvenitilas (adolescantium), pubertas, dan  nubilitas[3]. Penghayatan remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut.
  1. KARAKTER RASA AGAMA PADA REMAJA
1.    Religious awakening
Religious awakening yakni minat beragama atau kebangkitan rasa agama. Secara potensi, remaja sudah menginginkan adanya hubungan dengan suatu hal yang besar yang ada di luar dirinya, yang dapat menenangkan dan melindungi dirinya.
2.    Individualistic
3.    Sintesis
Bagi pendidik, hendaknya untuk memberikan materi agam bagi remaja dengan menggunakan konsep yang luas, dan mengaitkan dengan bidang ilmu lain.
4.    Konvensional
5.    Maknawi
6.    Reflektif
Pada awal masa usia, remaja mulai berlaku seksuai dengan hati nuraninya, dorongan untuk menentukan sendiri pilihan pilihan perilakunya dan mulai terlepas dari arahan orang tua. Remaja tak sukalagi berperilaku sesuai dengan aaturan orang tua-nya. Masa remaja adalah masa pemberontakan. Pada masa itulah hati nurani mulai mengambil peran dalam menentukan perilaku remaja, dan rasa tanggung jawab atas segala akibat dari  perilakunya.
7.    Agama menjawab persoalan pribadi
Menurut harrold, remaja memerlukan agama karena masa remaja adalah masa stram and unsecurity (bergelora dan tidak aman). Akan tetapi realitanya remaja tidak menyukai hal hal yang bersifat keagamaan, hal ini dikarenakan agama tidak menjawab kebutuhan dan persoalan remaja. Agama menjadi tidak mampu mengatasi dan menjawab kebutuhan serta persoalan remaja karena penyampaian materi agama yang tidak sesuai dengan masanya, sehingga pemahaman remaja menjadi berbeda dan tidak sesuai dengan pemahaman yang seharusnya. Selain itu pula, disebabkan karena kurangnya rasa dekat antara dirinya dengan tuhannya, yang dilator belakangi karena kurangnya komunikasi antara ia dengan tuhannya melalui ritual keagamaan. Kebiasaan pendidik yang hanya sekedar memberikan materi keagamaan secara kongkrit, membuat remaja menjadi kurang memaknai agama, sehingga membuat kristal rasa agama dalam dirinya lemah.
8.    Agama dan kelompok  social
Pada hakikatnya, remaja sudah membutuhkan teman sebaya yang dekat dengan dirinya (rumah kedua) sebagai tempat berekspresi dan berinteraksi dengan lingkungannya. Kelompok social ini dapat mempengaruhi rasa agamanya, karena melaluia kelompok sosial ini ia akan mengetahui apakah perilakunya diterima atau ditolak oleh lingkungannya, sehingga nantinya akan menimbulkan motivasi untuk berperilaku sesuai dengan yang dapat diterima oleh lingkungannya.
9.    Doubt
Religious doubt atau religious questioning, yakni mempertanyakan segala sesuatu hal mengenai keyakinannya. Remaja mempertanyakan masalah “child religious belief” terutama masalah inconsistencies antara nilai agama dengan realita, pengetahuan dan pengalaman yang menggelisahkan. Religious doubt terjadi disebabkan Karena kognisi remaja sudah mulai berkembang, sehingga pada usia remaj, seseorang menjadi banyak bertanya, karena pada dasarnya pada usia anak-anak hal-hal yang bersifat keagamaan masuk melalui proses tanpa tanya, bersifat doktriner, rutinitas, kongkrit dan tanpa referensi yang mana kebanyakan merupakan otoritas dari orangtua. Untuk mengatasi religious doubt dapat dilakukan melalui :
a.     Peer group
Penting bagi remaja untuk memilih teman bergaul yang dapat menambah sisi baik, member motivasi, semangat  dan inspirasi bagi dirinya.
b.    Sosok idola
Hal ini penting bagi pendidik, orang tua maupun orang yang lebih tua, agar memberikan contoh teladan yang tepat bagi remaja, sehingga mampu menjadi sosok yang di idolakan remaja tanpa melupakan etika.
10.  Conversi
Kepemilikan rasa agama dapat datang secara cepat (conversi) atau dengan melalui perkembangan.

C.    IMPLIKASI
Spilka menyatakan bahwa penanaman agama yang terhenti sebelum seseorang mencapai formal operation stage kadang akan sulit untuk diperbaiki. Oleh karena itu pemberian materi agama bagi remaja harus tetap dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek perkembangan yang terjadi pada masa remaja.
Sebagai faktor eksternal, maka pendidik harus memperhatikan dinamika perkembangan remaja. Dalam hal ini dinamika perkembangan remaja dapat digunakan sebagai dasar penyusunan materi yang akan diberikan kepada remaja beserta strategi dan metode penyampaiannya. Dilihat dari segi muatanya, pendidikan agama Islam merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran yang lain  sehingga penyampaian materi agama harus disampaikan menggunakan konsep yang luas, dengan mengaitkan berbagi cabang ilmu pengetahuan lain dan disampaikan secara mendalam. Hal ini sesuai dengan berbagai aspek perkembangan remaja baik kognisi maupun kejiwaannya sehingga mampu mendorong minat beragama serta menumbuhkan minat untuk menggali secara mendalam mengenai berbagai pengetahuan agama, sehingga dapat menjawab segala pertanyaan mengenai suatu hal yang berkaitan dengan keyakinannya dan menjawab semua persoalan pribadinya.
 Dengan demikian maka materi pendidikan agama dapat diterima dengan baik  dan dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari hari mereka , sehingga dapat meningkatkan potensi spiritual serta membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia.

D.    PENUTUP
Masa remaja mencakup masa juvenitilas (adolescantium), pubertas, dan  nubilitas. Masa remaja adalah masa pemberontakan. Pada masa itulah hati nurani mulai mengambil peran dalam menentukan perilaku remaja, dan rasa tanggung jawab atas segala akibat dari  perilakunya. Oleh karena itu pemberian materi agama bagi remaja harus tetap dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek perkembangan yang terjadi pada masa remaja. sehingga mampu mendorong minat beragama serta menumbuhkan minat untuk menggali secara mendalam mengenai berbagai pengetahuan agama, sehingga dapat menjawab segala pertanyaan mengenai suatu hal yang berkaitan dengan keyakinannya dan menjawab semua persoalan pribadinya, sehingga dapat meningkatkan potensi spiritual serta membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia.

DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin, Psikologi Agama,  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.
Mudjahit Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996.




[1] Clark, W.H, The Psychology Of  Religion. (New York : The MacMillan Company, 1958), Hal. 22

[2] Dosen Psikologi Agama,Fakultas tarbiyah dan Keguruan,UIN Sunan kalijaga
[3] Jalaluddin, Psikologi Agama. Hal. 74

PERKEMBANGAN DIMENSI RASA AGAMA PADA REMAJA



A.    PENGANTAR
Ada beberapa definisi rasa agama yang telah disampaikan oleh ahli psikologi. Rasa agama menurut Clark adalah pengalaman bathin dari seseorang ketika ia merasakan adanya tuhan, khususnya bila efek dari pengalaman itu terbukti dalam bentuk perilaku, yaitu ketika ia secara aktif berusaha menyesuaikan hidupnya dengan tuhan[1]. Sementara itu, rasa agama menurut Dra. Susilaningsih[2], adalah kristal kristal rasa agama yang ada dalam diri manusia sebagai produk dari proses internalisasi nilai nilai agama melalui proses mengalami, continue, konsisten dan berkelajutan.
Para psikolog agama sependapat bahwa rasa keagamaan memiliki akar kejiwaan yang bersifat bawaan dan berkembang dipengaruhi oleh faktor eksternal. Penanaman nilai nilai keagamaan menyangkut konsep tentang ketuhanan, semenjak usia dini mampu membentuk religiositas anak mengakar secara kuat pada masa remaja dan mempunyai pengaruh sepanjang hidup. Pada teori Harms, dinyatakan bahwa pemahaman anak tentang tuhan melalui tiga fase, dan masa remaja adalah masa yang mengalami fase individualistic stage. Dua situasi yang mendukung perkembangan rasa agama pada usia remaja adalah kemampuannya untuk berfikir abstrak dan kesensitifan emosinya.

B.     FAKTOR UTAMA PENGEMBANGAN RASA AGAMA
Menurut Prof KHM. Taib Thahir Abdul Mu’in, Agama adalah suatu peraturan yang mendorong jiwa seseorang yang mempunyai akal, memegang peratutan Tuhan dengan kehendak sendiri, untuk mencapai kebaikan hidup di dunia dan kebahagiaan diakhirat[3]. Hati nurani (conscience) adalah kristal kristal nilai yang berada jauh di dalam jiwa dan berperan sebagai sumber nilai yang diakui oleh diri individu sebagai yang baik dan benar sehingga mampu menjadi stimulus dari dalam (inner stimulus) terhadap perilaku yang semestinya dilakukan dan pengontrol terhadap perilaku yang semestinya tidak dilakukan. Dasar ukuran stimulus dan pengontrol adalah konsep konsep dasar nilai yang telah terserap sejak usia anak[4].
Pada masa remaja, anak masuk ke dalam tahap pendewasaan, dimana hati nurani (conscience) sudah mulai berkembang melalui pengembangan dan pengayaan pada usia anak melalui proses sosialisasi. Proses sosialisasi nilai tersebut terlaksana melalui proses identifikasi anak terhadap perilaku orang tuanya dan juga orang orang di sekelilingnya yang memiliki kesan dominan secara kejiwaan, sehingga terjadi proses imitasi sikap dan perilaku. Kekuatan dari kata hati sebagiannya justru terletak pada ketidak mengertian anak, karena dengan begitu konsep nilai yang masuk dalam diri anak terbentuk melalui proses tanpa tanya, begitu saja terserap tanpa adanya reaksi dari dalam. 
Proses kerja hati nurani dibantu oleh gejala jiwa yang lain yang disebut rasa bersalah (guilt) dan rasa malu (shame), yang akan muncul setiap kali ia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hati nuraninya. Clark menyatakan bahwa kapasitas untuk memiliki kata hati adalah merupakan potensi bawaan bagi setiap manusia, tetapi substansi dari kata hati merupakan hasil dari proses belajar. Rasa bersalah (guilt) adalah perasaan yang tumbuh jika dirinya tidak melakukan sesuatu sesuai dengan hati nuraninya. Beriringan dengan itu kemudian muncul rasa rasa malu (shame), yaitu reaksi emosi yang tidak menyenangkan terhadap perkiraan penilaian negatif dari orang lain terhadap dirinya. Kata hati, rasa bersalah dan rasa malu dalam perkembangan religiousitas adalah mekanisme jiwa yang terbentuk melalui proses internalisasi nilai nilai keagamaan pada usia anak, yang akan berfungsi sebagai pengontrol perilaku pada usia remaja. Hati nurani mulai mengambil peran pada masa remaja yang juga membantu dalm proses pemilikan pandangan hidup yang akan menjadi dasar dasar pegangan hidupnya dalam bermasyarakat.
Dalam  pembagian tahap perkembangan manusia, maka masa remaja menduduki masa Progresif. Dalam pembagian yang agak terurai masa remaja mencakup masa juvenitilas (adolescantium), pubertas, dan  nubilitas[5]. Penghayatan remaja terhadap ajaran agama dan tindak keagamaan yang tampak pada remaja banyak berkaitan dengan faktor perkembangan tersebut.

C.    PERKEMBANGAN DIMENSI KEAGAMAAN REMAJA
Verbit mengemukakan enam dimensi rasa agama, yaitu :
1.      Doctrine
Doctrine adalah pernyataan tentang hubungan dengan tuhan, oleh Stark dan Glock disebut dimensi belief yaitu keyakinan tentang ajaran ajaran agama. Perkembangan dimensi agama pada usia remaja bersifat abstrak, yang merupakan penilaian diri secara abstrak tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tuhan. Pada masa ini seseorang mampu menggunakan keyakinan yang ia percaya sejak kanak kanak dan menerima faham lingkungan yang dominan atas dirinya.
2.      Ritual
Ritual adalah dimensi rasa keagamaan yang berkaitan dengan perilaku peribadatan yang menunjukkan pernyataan tentang keyakinan diri terhadap tuhan dan ajarannya. Pada masa remaja, tujuan dan sifat peribadatan sudah bersifat abstrak dan umum, serta sudah mulai terdapat dorongan dari dalam diri. Intensitas dan kualitas perbadatan remaja ini sangat dipengaruhi oleh pembiasaan ritual yang sudah ia terima semasa kanak kanak dan juga peristiwa peristiwa kejiwaan yang sedang dialaminya.
3.      Emotion
Perkembangan dimensi emosi (emotion) keagamaan remaja banyak dipengaruhi oleh perkembangan emosi pada umumnya. Situasi emosi remaja banyak dipengaruhi oleh perasaan perasaan yang baru diantaranya rasa khawatir (anxiety) yang muncul karena proses menuju kemandirian, raa kebingungan (confusion and conflict) antara nilai dan realita yang ada di lingkungan sekitarnya, juga timbulnya perasaan cinta terhada lawan jenisnya. Kesensitifan emosi remaja disebabkan karena dalam diri mereka muncul sikap yang wajar menurut orang dewasa.

4.      Knowledge
Perkembangan pengetahuan keagamaan berkaitan dengan keterlibatan diri terhadap pemilikan pengetahuan yang meliputi semua aspek keagamaan.perkembangan intelektual remaja merupakan fase formal operation. Unsur pokok pemikirannya adalah pemikiran deduktif, induktif, dan abstraktif. Mereka memecahkan permasalahan yang dihadapi dengan reasoning dan logika. Pemikiran keagamaan yang tertanam pada usia anak yang akan muncul lagi dengan disertai daya kritik dan evaluasi terhadap pemikiran tersebut.
5.      Ethic
Perkembangan etika keagamaan erat hubungan dengan perkembangan moral , yaitu aspek jiwa yang berkaitan dengan dorongan untuk berperilaku sesuai dengan aturan moral di lingkungannya. Perkembangan moral pada usia remaja disebut fase autonomy, yaitu fase ketika orientasi moral didasarkan pada prinsip prinsip aturan yang telah terinternalisasikan dalam hati nurani melalui otoritas eksternal dan orientasi sosial.
6.      Community
Kelompok kawan sebaya merupakan factor pemberi pengaruh yang cukup kuat terhadap perkembangan remaja, karena kelompok kawansebayanya merupakan media pengembangan dorongan kemandiriannya Kelompok teman sebaya seagama akan menjadi sumber proses pengayaan konsep keagamaan remaja melalui proses aplikasi perilaku dan juga menumbuhkan rasa kepedulian sosial keagamaan, sebagai dorongan diri yang diperlukan untuk dasar aplikasi ajaran agam tentang ikatan social kemasyarakatan.

D.    IMPLIKASI
Spilka menyatakan bahwa penanaman agama yang terhenti sebelum seseorang mencapai formal operation stage kadang akan sulit untuk diperbaiki. Oleh karena itu pemberian materi agama bagi remaja harus tetap dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek perkembangan yang terjadi pada masa remaja.
Sebagai faktor eksternal, maka pendidik harus memperhatikan dinamika perkembangan remaja. Dalam hal ini dinamika perkembangan remaja dapat digunakan sebagai dasar penyusunan materi yang akan diberikan kepada remaja beserta strategi dan metode penyampaiannya. Dilihat dari segi muatanya, pendidikan agama Islam merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran yang lain  sehingga penyampaian materi agama harus disampaikan menggunakan konsep yang luas, dengan mengaitkan berbagi cabang ilmu pengetahuan lain dan disampaikan secara mendalam. Hal ini sesuai dengan berbagai aspek perkembangan remaja baik kognisi maupun kejiwaannya sehingga mampu mendorong minat beragama serta menumbuhkan minat untuk menggali secara mendalam mengenai berbagai pengetahuan agama, sehingga dapat menjawab segala pertanyaan mengenai suatu hal yang berkaitan dengan keyakinannya dan menjawab semua persoalan pribadinya.
 Dengan demikian maka materi pendidikan agama dapat diterima dengan baik  dan dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari hari mereka , sehingga dapat meningkatkan potensi spiritual serta membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia.

E.     PENUTUP
Masa remaja mencakup masa juvenitilas (adolescantium), pubertas, dan  nubilitas. Masa remaja adalah masa pemberontakan. Pada masa itulah hati nurani mulai mengambil peran dalam menentukan perilaku remaja, dan rasa tanggung jawab atas segala akibat dari  perilakunya. Oleh karena itu pemberian materi agama bagi remaja harus tetap dilakukan dengan memperhatikan berbagai aspek perkembangan yang terjadi pada masa remaja. sehingga mampu mendorong minat beragama serta menumbuhkan minat untuk menggali secara mendalam mengenai berbagai pengetahuan agama, sehingga dapat menjawab segala pertanyaan mengenai suatu hal yang berkaitan dengan keyakinannya dan menjawab semua persoalan pribadinya, sehingga dapat meningkatkan potensi spiritual serta membentuk peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia.

DAFTAR PUSTAKA

Jalaluddin, Psikologi Agama,  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2007.
Mudjahit Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1996.
Rofiq Nasihudin.blogspot.com







[1] Clark, W.H, The Psychology Of  Religion. (New York : The MacMillan Company, 1958), Hal. 22

[2] Dosen Psikologi Agama,Fakultas tarbiyah dan Keguruan,UIN Sunan kalijaga
[3] Mudjahit Abdul Manaf, Sejarah Agama-Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet II, 1996), Hal. 4

[4] Hurlock, E.B., Child development. (New York : Mc Graw Hill Book Company), hal 388
[5] Jalaluddin, Psikologi Agama. Hal. 74

REVIEW FILM HARUN YAHYA “KEAJAIBAN PLANET”


Tatanan tata surya bintang, planet, komet serta asteroid, semuanya bergerak dalam keselarasan yang sempurna. Dalam galaksi Bimasakti terdapat 9 planet yang kita kenal yakni :
·         Pluto
Hanya terdapat bebatuan dan udara yg sangat dingin. Suhu permukaan mencapai -238 derajat celcius. Atmosfir tipis berubah menjadi bongkahan es, sebongkah es yang mati
·         Neptunus
Suhu permukaan di neptunus mencapai -218 derajat celcius. Atmosfirnya terdiri dari hydrogen, helium, metana. Atmosfir berwarna biru yang sangat beracun bagi kehidupan, dipenuhi badai dengan kecepatan 2000 km/jam
·         Uranus
Planet ini sebagian besar tersusun dari batu dan es. Perlu 84 tahun bumi, bagi Uranus untuk mengelilingi matahari
·         Saturnus
Merupakan planet terbesar ke 2, dikenal dengan cincin yang melingkarinya, yang terdiri dari gas, bebatuan dan es. Gas, 75 hidrogen dan 25 persen helium
·         Jupiter
Merupakan planet terbesar di galaksi bimasakti, besarnya 318 kali lipat dari besar bumi. Terdapat medan magnet yang dapat membinasakan apapun, dan tak ada daratan di atasnya.
·         Mars
Atmosfirnya adalah campuran racun dan karbondioksida yang tinggi. Permukaannya penuh dengan kawah akibat dari meteor.
·         Venus
Suhunya mencapai 450 drajat celcius, cukup untuk melelehkan timbal. Atmosfirnya dilapisi lapisan lapisan sulfat oleh karenanya, selalu diguyur hujan asam mematikan
·         Merkurius
Merupakan planet terdekat matahari. Berputar pada sumbu amat lambat sehingga belahan yang satu merah membara dan yang lainnya dingin membeku.
·         Bumi
Dipenuhi kehidupan, keseimbangan paling selaras di udara, darat maupun laut. Jutaan binatang dan tumbuhan semua dalam bentuk dan warna yang berbeda hidup dalam satu planet, bumi. Hal ini terdapat pada QS Luqman 10- 11.
Planet biru ini mempunyai suhu yang dapat dihuni sekaligus atmosfir yang dapat dihirup makhluq hidup. Bumi takkan menjadi rumah jika saja jaraknya dengan matahari sedekat Venus atupun sejauh Jupiter. Ahli geologi amerika, memberikan penegasan tentang suhu rata rata di bumi, mereka menulis, kehidupan, sebagaimana yang kita ketahui, dapat berlangsung pada kisran suhu yang amat sempit. Kisaran ini mungkin 1 atau 2 persen dari rentang suhu antara nol mutlak sampai suhu permukaan matahari.
Perubahan kecil pada bumi dapat mengakibatkan bencana yang besar. Pengurangan 10 persen energi sinar matahari dapat mengakibatkan bumi tertutup lapisan es dengan ketebalan bermeter meter, sementara jika dinaikkan sedikit saja dapat mengakibatkan bumi dan makhluk hidup lainnya terpanggang dan mati.
Gravitasi permukaan bumi, jika lebih kuat atmosfir akan menahan terlalu banyak ammonia dan metana, jika lebih lemah, atmosfir planet ini akan kehilangan terlalu banyak air, dan jika lebih tebal maka akan terlalu banyak oksigen akan dipindahkan dari atmosfir ke kerak bumi, sementara jika lebih tipis aktifitas gunung berapi dan gempa akan terlalu besar.
Masa perputaran pada sumbu bumi, jika lebih lama perbedaan suhu antara siang dan malam akan terlalu besar, jika lebih pendek kecepatan angin di atmosfir akan terlalu tinggi. Jika kandungan ozon di atmosfir lebih banyak, maka suhu permukaan bumi akan terlalu rendah, sementara jika lebih sedikit maka suhu permukaan bumi akan terlalu tinggi dan akan terlalu banyak radiasi sinar ultraviolet pada permukaan bumi. Sementara jika aktivitas gempa lebih besar akan terlalu banyak makhluq hidup yang musnah, dan jika lebih kecil maka zat zat makanan di dasar lautan (yang berasal dari aliran sungai) tak akan terdaur ulang ke daratan melalui pengangkatan tektonik.
Keseimbangan ini menunjukkan bahwa materialism yang mengatakan bahwa bumi ada dengan sendirinya adalah kebohongan besar. Allah telah menciptakan manusia beserta makhluq hidup, dan kewajiban manusia adalah mendalami dan bersyukur atas segala karunia-Nya.




Selasa, 27 Desember 2011

PRAGMATISME MENURUT JOHN DEWEY


PRAGMATISME MENURUT JOHN DEWEY

A. PENDAHULUAN

               Pada abad ke-17 munculah dua aliran filsafat yang memberikan jawaban yang berbeda, bahkan saling bertentangan. Aliran filsafat tersebut adalah rasionalisme dan empirisme. Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio (akal), sedang empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri, atau pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya. Aliran empirisme itu sendiri pada abad ke-19 dan 20 berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yaitu Positivisme, Materialisme, dan Pragmatisme.


B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian pragmatisme?
2. Bagaimana pragmatisme menurut John Dewey?
3. Apa sajakah kritik tehadap pragmatisme?

C. PEMBAHASAN

1. Pengertian Pragmatisme

             Pragmatisme berasal dari bahasa Yunani, dari kata ‘pragma’ , yang berarti perbuatan (action) atau tindakan (practice). Isme di sini berarti aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekan¬kan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan.
                    Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal membawa akibat praktis. Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”. Pragmatisme berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki fungsi dan kegunaan bagi kehidupan manusia. Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak.
Pragmatisme dalam perkembangannya mengalami perbedaan kesimpulan walaupun berangkat dari gagasan asal yang sama. Kendati demikian, ada tiga patokan yang disetujui aliran pragmatisme yaitu :
(1) Menolak segala intelektualisme.
(2) Menolak absolutisme.
(3) Meremehkan logika formal.

B. Pragmatisme Menurut John Dewey

Filosof yang terkenal sebagai tokoh filasafat pragmatisme adalah William James,  Charles Pierce dan John Dewey. Akan tetapi makalah ini hanya mengulas mengenai pragmatisme menurut John Dewey.
                John Dewey (1859-1952 M). Sekalipun Dewey bekerja terlepas dari William James, namun menghasilkan pemikiran yang menampakkan persamaan dengan gagasan James. Sebagai pengikut filasafat pragmatisme, John Dewey menyatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya. Oleh karena itu, filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara kritis.
Menurutnya, filsafat bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia serta lingkungannya atau mengatur kehidupan manusia serta aktifitasnnya untuk memenuhi kebutuhan manusiawi.
Menurutnya, tidak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berfikir untuk mengatasi kesulitan itu. Oleh karena itu, berfikir merupakan alat (instrument) untuk bertindak. Kebenaran dari pengertian dapat ditinjau dari berhasil-tidaknya mempengaruhi kenyataan. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pengalaman dan untuk mengetahui arti yang sebenarnya adalah metode induktif.
                John Dewey lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah instrumentalisme. Pengalaman adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme. Oleh karena itu filsafat harus berpijak pada pengalaman dan mengolahnya secara aktif-kritis. Dengan demikian, filsafat akan dapat menyusun sistem norma-norma dan nilai-nilai.
                Instrumentalisme ialah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam itu dengan cara menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran itu berfungsi dalam penemuan-penemuan yang berdasarkan pengalaman yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan.
                Menurut Dewey, kita ini hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaannya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meneliti tiga aspek dari yang kita namakan instrumentalisme.
1.       Temporalisme : ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu.
2.       Futurisme        : melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin.
3.       Milionarisme  :dunia dapat diubah lebih baik dengan tenaga kita.
Pandangan ini pula yang dianut oleh William James.
John Dewey mengembangkan lebih jauh dari Pengembangkan Pragmatisme James. Jika James mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu, maka Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis, berbeda dengan James yang tidak menggunakan pendekatan biologis. Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori problem solving, yang mempunyai langkah-langkah sebagai berikut :
1. Merasakan adanya masalah.
2. Menganalisis masalah itu, dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin.
3. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah.
4. Memilih dan menganalisis hipotesis.
5. Menguji, mencoba, dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen
Meskipun berbeda-beda penekanannya, tetapi ketiga pemikir utama Pragmatisme menganut garis yang sama, yakni kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman.
Demikianlah Pragmatisme bergerak dan menggurui dunia, bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan manusia.


C. Kritik Terhadap Pragmatisme
Kekeliruan Pragmatisme dapat dibuktikan dalam tiga tataran pemikiran :
a.       Kritik dari Segi Landasan Ideologi
Pragmatisme dilandaskan pada pemikiran dasar yakni memisahkan agama dari kehidupan (sekularisme). Hal ini nampak dari perkembangan historis kemunculan Pragmatisme, yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari Empirisme. Dengan demikian, dalam konteks ideologis, Pragmatisme berarti menolak agama sebagai sumber ilmu pengetahuan.
b.   Kritik dari Segi Metode Berpikir
Pragmatisme yang tercabang dari empirisme nampak jelas menggunakan metode ilmiah, yang dijadikan sebagai asas berpikir untuk segala bidang pemikiran, baik yang berkenaan dengan sains dan teknologi maupun ilmu-ilmu sosial. Ini adalah suatu kekeliruan.
Metode ilmiah adalah metode tertentu untuk melakukan pembahasan/pengkajian untuk mencapai kesimpulan pengertian mengenai hakekat materi yang dikaji, melalui serang¬kaian percobaan/eksperimen yang dilakukan terhadap materi. Memang, metode ini merupakan metode yang benar untuk objek-objek yang bersifat materi/fisik seperti halnya dalam sains dan teknologi. Tetapi menjadikan metode ilmiah sebagai landasan berpikir untuk segala sesuatu pemikiran adalah suatu kekeliruan, sebab yang seharusnya menjadi landasan pemikiran adalah metode aqliyah / rasional, bukan metode ilmiah. Sebab, metode ilmiah itu sesungguhnya hanyalah cabang dari metode aqliyah. Argumen yang mendasari sebagaimana disebutkan oleh Taqiyuddin An Nabhani adalah :
a.       Bahwa untuk melaksanakan eksperimen dalam metode ilmiah, tak dapat tidak pasti   dibutuhkan informasi-informasi sebelumnya. Dan informasi sebelumnya ini, diperoleh melalui metode aqliyah, bukan metode ilmiah. Maka, metode aqliyah berarti menjadi dasar bagi adanya metode ilmiah.
b.      Bahwa metode ilmiah hanya dapat mengkaji objek-objek yang bersifat fisik atau material yang dapat diindera. Dia tidak dapat digunakan untuk mengkaji objek-objek pemikiran yang tidak terindera seperti sejarah, bahasa, logika, dan hal-hal yang ghaib. Sedang metode aqliyah, dapat mengkaji baik objek material maupun objek pemikiran. Maka dari itu, metode aqliyah lebih tepat dijadikan asas berpikir, sebab jangkauannya lebih luas daripada metode ilmiah.
   Atas dasar dua argumen ini, maka metode ilmiah adalah cabang dari metode aqliyah. Jadi yang menjadi landasan bagi seluruh proses berpikir adalah metode aqliyah, bukan metode ilmiah, sebagaimana yang terdapat dalam pragmatisme.
c.       Kritik Terhadap Pragmatisme Itu Sendiri
            Pragmatisme adalah aliran yang mengukur kebenaran suatu ide dengan kegunaan praktis yang dihasilkannya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pragmatisme menimbulkan relativitas dan kenisbian kebenaran sesuai dengan perubahan subjek penilai ide dan perubahan konteks waktu dan tempat. Dengan kata lain, kebenaran hakiki pragmatisme baru dapat dibuktikan setelah melalui pengujian kepada seluruh manusia dalam seluruh waktu dan tempat.

D. KESIMPULAN
.
  • Filosuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dewey. Mereka berdualah yang paling bertanggung jawab terhadap generasi Amerika sekarang, karena di Amerika Serikat pragmatisme mendapat tempat tersendiri dengan melekatnya nama John Dewey sebagai tokohnya, disamping William James.
  • Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesauatu ialah apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata
  • Kritik terhadap pragmatisme, antara lain :
1)Kritik dari segi landasan ideologi.
2)Kritik dari segi metode berfikir.
3)Kritik terhadap pragmatisme itu sendiri.
·                                                                     Instrumentalisme =
1)      Temporalisme : ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu.
2)      Futurisme        : melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin.
3)      Milionarisme  :dunia dapat diubah lebih baik dengan tenaga kita.

DAFTAR PUSTAKA
1. Juhaya S. Praja, Prof., Dr.,2003, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta : Prenada Media.
2. Syadali Ahmad Mudzakir, Drs., dkk., 1997, Filsafat Umum, Bandung : CV. Pustaka Setia:

3.  Hadiwijono Harun, 2007, Sari sejarah filsafat 2, Yogyakarta : Kanisius.
4. Richarrd T. Nolan., dkk, 1984, Persoalan persoalan filsafat, Jakarta : P.T Bulan   Bintang.