Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Juni 2013

PEMIKIRAN AL-GHAZALI TENTANG PENDIDIKAN



               Sistem pendidikan al-ghazali sangat dipengaruhi luasnya ilmu pengetahuan yang dikuasainya, sehingga dijuluki filosof yang ahli tasawuf (Failasuf al-Mutasawwifin)[1] Dua corak ilmu yang telah terpadu dalam dirinya itu kemudian turut mempengaruhi formulasi komponen-komponen dalam system pendidikannya. Ciri khas system pendidikannya al-Ghazali sebenarnya terletak pada pengajaran moral religious dengan tanpa mengabaikan urusan dunia [2]
1.      Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan menurut al-Ghazali harus mengarah kepada realisasi tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan dan taqorrub kepada Allah dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia. Sebab jika tujuan pendidikan diarahkan selain untuk mendekaykan diri kepada Allah, akan menyebabkan kesesatan dan kemudharatan. Al-Ghazali  berkata : “hasil dari ilmu sesungguhnya ialah mendekatkan diri kepada Allah, dan menghubungkan diri dengan para malaikat yang tinggi dan bergaul dengan alam arwah, itu semua adalah keberasan, pengaruh penerintahan bagi raja-raja dan penghormatan secara naluri”[3] Menurut al-Ghazali, pendekatan diri kepada Allah merupakan tujuan pendidikan. Orang dapat mendekatkan diri kepada Allah hanya setelah memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmi pengetahuan itu tidak akan diperoleh kecuali melalui pengajaran. Selanjutnya, dari kata-kata tersebut dapat difahami bahwa menuru al-Ghazali tujuan pendidikan dapat dibagi menjadi 2 yaitu tujuan jangka panjang dan pendek.
a.       Tujuan pendidikan jangka panjang
Adalah mendekatkan diri kepada Allah, pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju pengenalan dan kemudia pendekatan diri kepada Allah. Menurut konsep ini, dapat dinyatakan bahwa semakin lama seseorang duduk dibangku pendidikan, semakin bertambah ilmu pengetahuannya, maka semakin mendekat kepada Allah.
        Tentu saja untuk mewujudkan hal itu bukanlah system pendidikan yang memisahkan ilmu-ilmu keduniaan dari nilai-nilai kebenaran dan sikap religius , tetapi system pendidikan yang memadukan keduanya secara integral. System inilah yang mampu membentuk manusia yang mampu melaksanakan tugas-tugas kekhalifahan dan system pemdidikan al-Ghazali mengarah kesana.
b.      Tujuan pendidikan jangka pendek
Adalah diraihnya profesi manusia sesui dengan bakat dan kemampuan nny. Syarat untuk mencapai tujuan itu manusia, mengembangkan ilmu pengetahuan baik yang fardu ‘ain dan fardu kifayah[4]

Kesimpulan tujuan pendidikan menurut al-Ghazali :
a.      Mendekatkan diri kepada Allah, yang wujudnya adalah kemampuan dan denfgan kesadaran diri melaksanakan ibadah wajib dan sunnah
b.      Menggali dan mengambangkan potensi atau fitrah manusia
c.      Mewujudkan profesionalisasi manusia untuk mengemban tugas keduniaan dengan sebaik-baiknya
d.      Membentuk manusia yang berakhlak mulia, suci jiwanya dari kerendahan budi dan sifat-sifat tercela
e.      Mengembangkan sifat-sifat manusia yang utama sehingga menjadi manusia yang manisiawi
2.      Kurikulum Pendidikan
Pandangan al-Ghazali terhadap kurikulum dapat dilihat dari pandangan mengenai tentang ilmu pengetahuan. Kurikulum pendidikan yang disusun al-ghazali sesuai pandanganya mengenai tujuan pendidikan yakni mendekatkan diri kkepada Allah yang merupakan tolak ukur manusia. Untuk menuju kesana diperlukan ilmu pengetahuan
Mengurai kurikulum pendidikan menurut al-ghazali, ada dua hal yang menarik bagi kita. Pertama, pengklasifikasian terhadap ilmu pengetahuan yang sangat terperinci yang segala aspek yang terkait denganya. Kediua, pemikiran tentang manusia dengan segala potensi yang dibawanya sejak lahi. Semua manusia esensinya sama. Ia sudah kenal betul dengan pencipta sehingga selalu mendekat padanya dan itu tidak akan berubah.[5]
Al-ghazali mengklasifikasikan manusia adalah pribadi yang satu yang tidak dapat disamakan dengan pribadi yang lain. Tingkat pemahaman, daya tangkap, dan daya ingatnya terhadap ilmu pengetahuan, kemampuan menjalankan tugas hidupnya berbeda antara orang yang satu dengan yang lain. Oleh karena itu dalam kaitanya dengan kurikulum al-ghazali mendasarkan pemikiranya bahwa kurikulum pendidikan harus disusun dan selanjutnya disampaikan kepada murid sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan psikisnya.
Selanjutnya al-ghazali membagi ilmu pengetahuan dari beberapa sudut pandang, yaitu :
a.      Berdasarkan pembidangan ilmu
Dibagi menjadi dua bidang, yaitu imu syari’ah sebagai ilmu terpuji terdiri atas : iilmu ushul, ilmu furu’, ilmu pengantar.muqoddimah, dan ilmu pelengkap. Yang kedua yaitu ilmu bukan syari’ah terdiri dari ilmu kedokteran, ilmu hitung, perttanian, pembangunan, tata pemerintahan, industry, kebudayaan, sastra, ilm,u tenun dan pengolahyan pangan
b.      Berdasarkan objek
Ilmu dibagi atas tiga kelompok, yaitu :
1.      Ilmu pengetahuan yang tercela secara mutlak baik sedikit ,maupun banya. Seperti, sihir, azimat, dan ilmu tentang ramalan nasib
2.      Ilmu pengetahuan yang terpuji. Seperti ilmu agama, dan ilmu tentang beribadat.
3.      Ilmu pengethuan yang dalam kadar tertentu terpuji tapi jika mendalmin ya tercela. Seperti dari filsafat naturalism. Menurut al-ghazali ilmu tersebut juka diperdalam akan menimbulkan kekacauan fikirann dan keraguan, sehingga mendorong manusia kepada kufur dan ingkar.[6]
c.      Berdasarkan status hukum mempelajarinya yang terkait dengan nilau guna.
Dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
1.      fardu ain, yang wajib dipelajari setiap individu misalkan illmu agama dan cabang-cabangnya
2.      fardu kifayah, yaitu ilmu yang tidak diwajibjklan pada setiap muslim tetapi harus ada diantra orang muslim yang mempelajarinya. Misalkan ilmu kedokteran, ilmu hitung, pertanian, politik, dan pengobatan tradisional.
3.      Pendidik
Dalam hal ini al-ghozali berkata : “ makhluk yang paling mulia di muka bumi adalah manusia. Sedangkan yang paling mulia penampilanya ialah kalbunya. Guru atau pengajar se;a;u menyempurnakan, mengagungkan dan mensucikan kalbu itu serta menuntutnya untuk dekat kepada Allah”.[7]
                Dia juga berkata ;  “ seseorang yang berilmu dan kemuudian bekerja dengan ilmunya itu, dialah yang dinamakn oranbg besar dibawah kolong langit ini. Ia bagai matahari yang mencahayai orang lain, sedangkan ia sendiri pun bercahaya. Ibarat minyak kasturi yang baunya dinikmati orang lain, ia sendiri pun harum,. “[8]

Menurut al-ghozali pendidik.guru memiliki sifat-sifat, yaitu[9] :
1.      Bertanggug jawab
2.      Sabar
3.      Duduk tenang penuh wibawa
4.      Tidak sombong terhadap semua orang, kecuali terhadap orang yang dolim dengan tuyjuan untuk menghentikan kiedolimanya.
5.      Mengutamakn bersikap tawadhu’ di majlis-majlis pertemuan
6.      Tidak suka bergurau dan bercanda
7.      Ramah terhadap para pelajar
8.      Teliti dan setia mengawasi anak yang nakal
9.      Setia membimbing anak yang bebal
10.   Tidak gampang marah kepada anak yang bebal dan  lambat pemikiranya
11.   Tidak malu berkata : saya tidak tau ketika ditanya persoalan yang belum ditekuninya.
12.   Memperhatikan murid yang bertanya dan berusaha menjawabnya dengan baik.
13.   Manerima alas an yang diajukan kepadanya
14.   Tunduk kepada kebenaran
15.   Melarang murid yang mempelajari ilmu yang membahayakan.
16.   Memperingatkan murid mempelajari ilmu agama tetapi untuk kepentingan selain Allahg
17.   Memperingatkan murid agar tidak sibuk mempelajari ilmu fardu kifayah sebelum selesai dengan mempelajari ilmu fardu ain
18.   Memperbaiki ketaqwaaanya kepada Allah
19.   Mempraktekkan makna  taqwa dalam kehidupan sehari-harinya ssebelum memerintahkan kepada murid agar murid mengikuti perbuatanya dan agar murid mrngambil manfaat ucapan-ucapanya.

4.      Peserta didik
Al-ghazali berkata : “ Seorang pelajar hendaknya tidak menyobongkan diri dengan ilmunya dan jangan menentang gurunya. Tetapi menyerah sepenuhnya kepada guru dengan keyakinan kepada segala nasihatnya sebagaimana seoorang sakit yang bodoh yakin kepada dokter yang ahli dan berpengalaman. Seharusnya seorang pelajar itu tunduk kepada gurunya, mengaharap pahala dan kemuliaan dengan tunduk kepadanya.”[10]
Sedangkan peserta didik menurut al-ghozali dalam bidayatul hidayah adalah sebagai berikut [11]:
1.      Hendaknya member ucapan salam kepada guru terlebih dahulu
2.      Tidak banyak bicara dihadapanya
3.      Tidak berbiicara selagi tidak ditnya gurunya
4.      Tidak bertanya sebelum memintya izin terlebih dahulu
5.      Tidak menentang ucapan guru dengan ucapan (pendapat) orang lain
6.      Tidak menampakkan penentanganya terhadap pendapatr gurunya, apalagi menganggap gurunya paling pandai dari gurunya
7.      Tidak boleh berisik kepada teman yang duduk disebelahnya ketika guru sedang berada dalam majlis itu
8.      Tidak menoleh-noleh ketika sedang berada di depan gurunya., tettapi harus menundukkan kepala dan tengang seperti dia sedang melakukan shalat
9.      Tidak banyak bertanya kepada guru, ketika dia dalam keadaan letih
10.   Hendaknya berdiri ketika gurunya berdiri dan tidak berbicara denganya ketika dia sudah berabjak dari tempat duduknya
11.   Tidak mengajukan pertanyaan kepadda guru ditengah perjalananya
12.   Tidak berprangkan buruk pada guru ketika ia melakukan perbuatan yang dhohitnya munkar, sebab dia lebih mengetrahui rahasis (perbuatanya)
5.      Media dan Metode
6.      Proses


[1] A. Hanafi, Pengantar Filsafat Islam (Jakarta; Bulan Bintang 1976) Hal 197
[2] Fatiah Hasan Sulaiman, Sistem Pendidikan versi al-Ghazali, Bandung; PT al-Ma’arif, 1986, hal 24
[3] Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Juz 1 Masyhadul Husaini. Hal 13
[4] DRS. Abidin Ibnu Rusn, Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan . Yogyakarta; Pustaka Pelajar. 1998. Hal 59
[5] Ibid. hal. 90
[6] Jaluddin dan usman said, Filsafat pendidikan Islam, (Jakarta : rajawali pers, 1994). Hal. 142-143
[7]  Ibid. Al-ghazali,hal. 14
[8] Ibid.
[9]  Imam abu hamid Al-ghazali, Bidayatul hidayah, penerjemah HM. Fadil saad. (Al-hidayah:Surabaya) hal. 182
[10] Ibid Al-ghozali juz 1 hal. 49-50
[11] Ibid  hal 183-184

KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH


Profesionalisme Kepemimpinan Kepala Sekolah
Wahjosumidjo (2002:83) mengartikan bahwa: “Kepala sekolah adalah seorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah di mana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadi interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran. Sementara Rahman dkk (2006:106) mengungkapkan bahwa “Kepala sekolah adalah seorang guru (jabatan fungsional) yang diangkat untuk menduduki jabatan structural (kepala sekolah) di sekolah”. Kepala sekolah merupakan salah satu komponen pendidikan yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk itu kepala sekolah harus mengetahui tugas-tugas yang harus ia laksankan.
Kepemimpinan kepala sekolah adalah kepala sekolah sebagai:
1.     Leader
Leader secara bahasa artinya adalah pemimpin. Kepala sekolah adalah pemimpin bagi lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Sebagai leader, kemampuan yang harus dimiliki kepala sekolahadalah:
Pertama, kemampuan membangun visi, misi, dan strategi lembaga. Visi adalah pandangan ke depan lembaga pendidikan itu mau dibawa kearah mana. Misi adalah alasan mengapa lembaga tersebut ada, biasanya berdasar pada nilai-nilai tertentu yang melekat dalam organisasi. Sedangkan strategi adalah bagaimana kepala sekolah mampu mengelola sumberdaya yang dimiliki dalam upaya mencapai visi dan misi yang telah ditentukan tersebut.
Visi kepala sekolah akan sangat menentukan kearah mana lembaga pendidikan itu dibawa. Kepala sekolah yang tidak mempunyai visi jauh ke depan hanya akan bertugas sesuai dengan rutinitas dan tugas sehari-harinya tanpa tahu kemajuan apa yang harus ia capai dalam kurun waktu tertentu. Kiranya, visi ini harus dibangun terlebih dahulu agar tercipta jalan dan panduan perjalanan lembaga ke depan.
Kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan meningkatkan kemauan dan kemampuan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas. Wahjosumijo (1999) mengemukakan bahwa kepala sekolah sebagai pemimpin harus mempunyai karakter lkhusu yang mencakup kepribadian, keahlian dasar, pengalaman dan penegtahuan professional, serta penegtahuan administrasi dan pengawasan.[1]
Kemampuan kepala sekolah sebagai pemimpin dapat dianalisi dari aspek kepribadian penegtahuan terhadap tenaga kependidikan, visi, misi sekolah, kemampuan mengambil keputusan dan kemampuan berkomunikasi. Sedangkan kepribadian kepala sekolah sebagai pemimpin akan tercermin dalam sifat yang ujur, percaya diri, tanggung jawab, berani mengambil resiko da keputusan, berjiwa besar, emosi yang stabil dan teladan.
Kedua, sebagai leader, kepala sekolah harus mampu berperan sebagai innovator, yaitu orang yang terus-menerus membangun dan mengembangkan berbagai inovasi untuk memajukan lembaga pendidikan. Salah satu yang menandai pergerakan dan kemajuan lembaga pendidikan adalah sebesar dan sebanyak apa inovasi yang dilakukan lembaga pendidikan tersebut setiap tahunnya. Jika banyak inovasi dan pembaruan yang dilakukan, maka berarti terdapat kemajuan yang cukup signifikan. Tetapi sebaiknya, jika tidak banyak inovasi yang dilakukan, maka lembaga pendidikan itu lebih banyak jalan di tempat dan tidak mengalami banyak kemajuan.
Ketiga, kepala sekolah harus mampu membangun motivasi kerja yang baik bagi seluruh guru, karyawan, dan berbagai pihak yang terlibat di sekolah. Kemampuan dalam membangun motivasi yang baik akan membangun produktivitas organisasi dan meningkatkan efisiensi kerja. Dengan motivasi yang tinggi, didukung dengan kemampuan guru dan keryawan yang memadai, akan memacu kenerja lembaga secara keseluruhan. Karenanya, kemampuan membangun motivasi menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan performa dan produktivitas kerja.
Keempat, kepala sekolah harus mempunyai keterampilan melakukan komunikasi, menangani konflik, dan membangun iklim kerja yang yang positif di lingkungan lembaga pendidikan. Iklim kerja yang positif akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan kerja secara keseluruhan. Jika komunikasi tidak terbangun dengan baik misalnya, akan banyak terjadi kesalah pahaman baik di antara bawahan atasan maupun di antara bawahan itu sendiri. Akibatnya, lembaga pendidikan tidak lagi bisa menjadi tempat yang nyaman untuk bekerja. Masing-masing orang tidak lagi memperhatikan antara satu dengan yang lain, masing-masing bekerja secara individual sehingga membuat suasana kerja tidak nyaman. Jika hal ini terjadi, akan sulit mengharapkan mereka untuk bekerja lebih keras atau lebih produktif. Lingkungan dan suasana kerja yang baik akan mendorong guru dan karyawan bekerja lebih senang dan meningkatkan tanggung jawab untuk melakukan pekerjaan secara lebih baik.
Kelima, kepala sekolah harus mampu melakukan proses pengambilan keputusan, dan bisa melakukan proses delegasi wewenang secara baik. Pengambilan keputusan membutuhkan ketrampilan mulai dari proses pengumpulan informasi, pencarian alternative keputusan, memilih keputusan, hingga mengelola akibat ataupun konsekuensi dari peputusan yang telah diambil.
Kepala sekolah harus mempunyai ketrampilan pengambilan keputusan secara cepat dan tepat disesuaikan dengan dinamika dan perkembangan yang terjadi. Jika setiap permasalahan bisa segera diputuskan dan dicarikan jalan keluar, maka akan memudahkan organisasi untuk berjalan dengan dinamika yang cepat. Tatapi sebalik nya, jika kepala sekolah sering ragu dalam mengambil keputusan, maka organisasi di lembaga tersebut akan terganggu dengan banyaknya masalah yang masih menggantung dan membutuhkan jalan keluar.
Selain pengambilan keputusan, kepala sekolah juga mempunyai keterampilan mendelegasikan tugas dan wewenangnya kepada para bawahan. Delegasi wewenang ini di satu sisi akan memudahkan tugas-tugas kepala sekolah sehingga ia bisa berkonsentrasi untuk menjalankan tugas-tugas yang strategis dan mendele
gasikan tugas-tugas operasional sehari-hari kepada bawahannya. Di sisi lain, delegasi wewenang akan membuat bawahan merasa dihargai sekaligus menjadi proses pembelajaran kepemimpinan bagi mereka. Sehingga proses operasional organisasi bisa berjalan dengan lancar.
2.     Manajer

Sebagai seorang manajer, kepala sekolah harus mempunyai empat kompetensi dan ketrampilan utama dalam menajerial organisasi, yaitu ketrampilan membuat perencanaan, keterampilan mengorganisasi sumberdaya, keterampilan melaksanakan kegiatan, dan keterampilan melakukan pengendalian dan evaluasi. Empat keterampilan manajerial kepala sekolah akan dibahas secara detail berikut ini.
Pertama, keterampilan melakukan perencanaan. Kepala sekolah harus mampu melakukan proses perencanaan, baik perencanaan jangka pendek, menengah, maupun perencanaan jangka panjang. Perencanaan jangka pendek adalah perencanaan yang dibuat untuk kepentingan jangka pendek, misalnya untuk satu bulan hingga satu tahun ajaran. Perencanaan jangka menengah adalah perencanaan untuk pekerjaan yang memerlukan waktu 2-5 tahun, sedangkan perencanaan jangka panjang meliputi perencanaan sekitar 5-10 tahun. Proses perencanaan menjadi salahsatu keterampilan yang penting mengingat perencanaan yang baik merupan setengah dari kesuksesan suatu pekerjaan. Prinsip perencanaan yang baik, akan selalu mengacu pada: pertanyaan: “Apa yang dilakukan (what), siapa yang melakukan (who), kapan dilakukan (when). Di mana dilakukan (where), dan bagaimana sesuatu dilakukan (how)”, Detail perencanaan inilah yang akan menjadi kunci kesuksesan pekerjaan.
Kedua, keterampilan melakukan pengorganisasian. Lembaga pendidikan mempunyai sumberdaya yang cukup besar mulai sumberdaya manusia yang terdiri dari guru, karyawan, dan siswa, sumberdaya keuangan, hingga fisik mulai dari gedung serta sarana dan prasarana yang dimiliki. Salah satu masalah yang sering melanda lembaga pendidikan adalah keterbatasan sumberdaya. Kepala sekolah harus mampu menggunakan dan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia dengan sebaik-baiknya. Walaupun terbatas, namun sumberdaya yang dimiliki adalah modal awal dalam melakukan pekerjaan. Karena itulah, seni mengola sumberdaya menjadi ketrerampilan manajerial yang tidak bisa ditinggalkan.[2]
Ketiga, adalah kemampuan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Tahapan ini mengisyaratkan kepala sekolah membangun prosedur operasional lembaga pendidikan, memberi contoh bagaimana bekerja, membangun motivasi dan kerjasama, serta selalu melakukan koordinasi dengan ber bagai elemen pendidikan. Tidak ada gunanyua perencanaan yang baik jika dalam implementasinya tidak dilakukan secara sungguh-sungguh dan professional.
Keempat, kepala sekolah harus mampu melakukan tugas-tgas pengawasan dan pengendalian. Pengawasan (supervisi) ini meliputi supervise manajemen dan juga supervisi dalam bidang pengajaran. Sepervisi manajemen artinya melakukan pengawasan dalam bidang pengembangan keterampilan dan kompetensi adminstrasi dan kelembagaan, sementara supervisi pengajaran adalah melakukan pengawasan dan kendali terhadal tugas-tugas serta kemampuan tenaga pendidik sebagai seorang guru. Karenanya kepala sekolah juga harus mempunyai kompetensi dan keterampilan professional sebagai guru, sehingga ia mampu memberikan supervisi yang baik kepada bawahannya.[3]
3.     Supervisor
Kepala sekolah mempunyai tugas sebagai supervisor. Kepala sekolah sebagai supervisor dimaksudkan untuk meningkatkan pengawasan dan pengendalian terhadap guru-guru dan personel lain untuk meningkatkan kinerja mereka. Kepala sekolah sebagai supervisor bertugas mengatur seluruh aspek kurikulum yang berlaku di sekolah agar dapat memberikan hasil yang sesuai dengan target yang telah ditentukan. Aspek-aspek kurikulum yang harus dikuasai oleh kepala sekolah sebagai supervisor adalah materi pelajaran, proses belajar mengajar, evaluasi kurikulum, pengelolaan kurikulum, dan pengembangan kurikulum.
Sergiovani dan Starrat (dalam Mulyasa, 2005) menyatakan bahwa “Supervision is a process designed to help teacher and supervisor team more about their practice, to better able to use their knowledge and skills to better serve parents and schools and to make the school a more effective learning community”.
Sebagai supervisor, kepala sekolah mempunyai beberapa peran penting, yaitu:
  1. Melaksanakan penelitian sederhana untuk perbaikan situasi dan kondisi proses belajar mengajar.
  2. Mengadakan observasi kelas untuk peningkatan efektivitas proses belajar mengajar.
  3. Melaksanakan pertemuan individual secara profesional dengan guru untuk meningkatkan profesi guru.
  4. Menyediakan waktu dan pelayanan bagi guru secara profesional dalam pemecahan masalah proses belajar mengajar.
  5. Menyediakan dukungan dan suasana kondusif bagi guru dalam perbaikan dan peningkatan mutu proses belajar mengajar.
  6. Melaksanakan pengembangan staf yang berencana dan terarah.
  7. Melaksanakan kerjasama dengan guru untuk mengevaluasi hasil belajar secara komprehensif.
  8. Menciptakan team work yang dinamis dan profesional.
  9. Menilai hasil belajar peserta didik secara komprehensif.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa peran utama kepala sekolah sebagai supervisor adalah menyusun dan melaksanakan program supervisi pendidikan serta memanfaatkan hasilnya yang diwujudkan dalam, program supervisi kelas, kegiatan ekstra kurikuler, serta peningkatan kinerja tenaga kependidikan dalam upaya pengembangan sekolah.
Sebagai supervisor, kepala sekolah mensupervisi pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kependidikan. Sergiovani dan Starrat (1993) menyatakan bahwa supervisi merupakan suatu proses yang dirancang secara khusus untuk membantu para guru dan supervisor mempelajari tugas sehari-hari di sekolah, agar dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuannya untuk memberikan layanan yang lebih baik pada orang tua peserta didik dan sekolah, serta berupaya menjadikan sekolah sebagai komunitas belajar yang lebih efektif.
Supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan sebagai supervisor, tetapi dalam sistem organisasi pendidikan modern diperlukan supervisor khusus yang independen dan dapat meningkatkan objektivitas pembinaan dan pelaksanaan tugasnya. Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk mencegah agar tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih cermat melaksanakan pekerjaannya.
Tugas kepala sekolah sebagai supervisor diwujudkan dalam kemampuannya menyusun dan melaksanakan program supervisi pendidikan serta memanfaatkan hasilnya. Kemampuan menyusun program supervisi pendidikan harus diwujudkan dalam penyusunan program supervisi kelas, pengembangan program supervisi untuk kegiatan ekstra-kurikuler, pengembangan program supervisi perpustakaan, laboraturium dan ujian. Kemampuan melaksanakan program supervisi pendidikan diwujudkan dalam pelaksanaan program supervisi klinis dan dalam program supervisi kegiatan ekstra-kurikuler. Sedangkan kemampuan memanfaatkan hasil supervisi pendidikan diwujudkan dalam pemanfaatan hasil supervisi untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan dan pemanfaatan hasil supervisi untuk mengembangkan sekolah.[4]
Kepala sekolah sebagai supervisor perlu memperhatikan prinsip-prinsip: (1) hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkis; (2) dilaksanakan secara demokratis; (3) berpusat pada tenaga kependidikan; (4) dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan; dan (5) merupakan bantuan profesional.
Konsep-konsep yang perlu dimiliki kepala sekolah adalah:
  1. Pengertian berhubungan dengan apa yang dimaksud dengan supervisi pendidikan.
  2. Tujuan berhubungan dengan apa yang ingin dicapai dengan melaksanakan supervisi pendidikan.
  3. Prinsip berhubungan dengan bagaimana supervisi pendidikan harus dilakukan.
  4. Metode dan teknik berhubungan dengan cara-cara supervisi pendidikan dilaksanakan.
Melalui kemampuan kepala sekolah melaksanakan supervisi diharapkan akan mampu mengidentifikasi para guru yang bermasalah atau yang kurang profesional dalam melaksanakan tugas, sehingga pada akhirnya diketahui titik kelemahan yang menghambat pencapaian tujuan pendidikan untuk selanjutnya segera dicarikan solusinya.
4.     Motivator
Sebagai motivator, kepala sekolah memiliki strategi yang tepat untuk memberikan motivasi kepada para tenaga kependidikan dalam melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat ditumbuhkan melalui pengaturan lingkungan fisik, suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan secara efektif dan penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan Pusat Sumber Belajar (PSB).[5]

Dorongan dan penghargaan merupakan dua sumber motivasi yang efektif diterapkan oleh kepala sekolah. Keberhasilan suatu organisasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor yang datang dari dalam maupun datang dari lingkungan. Dari berbagai faktor tersebut, motivasi merupakan suatu faktor yang cukup dominan dan dapat menggerakkan faktor-faktor lain ke arah keefektifan (effectiveness) kerja, bahkan motivasi sering disamakan dengan mesin dan kemudi mobil, yang berfungsi sebagai penggerak dan pengarah.

Setiap tenaga kependidikan memiliki karakteristik khusus, yang berbeda satu sama lain, sehingga memerlukan perhatian dan pelayanan khusus pula dari pimpinannya agar memanfaatkan waktu untuk meningkatkan profesionalismenya. Perbedaan tenaga kependidikan tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi juga dalam kondisi psikisnya, misalnya motivasinya. Oleh karena itu, untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan, kepala sekolah perlu memperhatikan motivasi para tenaga kependidikan dan faktor-faktor lain yang berpengaruh.

Terdapat beberapa prinsip yang dapat diterapkan kepala sekolah untuk mendorong tenaga kependidikan agar mau dan mampu meningkatkan profesionalismenya. Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut.
1. Para tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukannya menarik dan menyenangkan.
2. Tujuan kegiatan perlu disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada para tenaga kependidikan sehingga mereka mengetahui tujuannya bekerja. Para tenaga kependidikan juga dapat dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut.
3. Para tenaga kependidikan harus selalu diberitahu tentang hasil dari setiap pekerjaannya.
4. Pemberian hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan.
5. Usaha memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan dapat dilakukan dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, memberikan rasa aman, menunjukkan bahwa kepala sekolah memperhatikannya, mengatur pengalaman sedemikian rupa sehingga setiap pegawai pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan.[6]

Penghargaan penting artinya untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan dan mengurangi kegiatan yang kurang produktif. Melalui penghargaan, tenaga kependidikan dirangsang untuk meningkatkan profesionalisme kerjanya secara positif dan produktif. Pelakasanaan penghargaan dapat dikaitkan dengan prestasi tenaga kependidikan secara terbuka, sehingga mereka memiliki peluang untuk meraihnya. Kepala sekolah harus berusaha menggunakan penghargaan secara tepat, efektif dan efisien untuk menghindari dampak negatif yang ditimbulkannya.


[1]Mulyasa, 2004,  menjadi kepala sekolah professional, bandung, remaja rosdakarya.  Hal 115-117
[2] Wahjosumidjo. 2008. Kepemimpinan Kepala Sekolah. Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: Rajawali Pers Hal 94
[3] Lazizmu edisi: 14 januari 2009
[4] Mulyasa, 2004,  menjadi kepala sekolah professional, bandung, remaja rosdakarya. Hal 112-114
[5] Ibid. hal 120
[6] Ibid hal 122

RINGKASAN : H.A.R TILAAR : PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT MADANI INDONESIA




Judul Buku                   : Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia (Strategi Reformasi Pendidikan Nasional)
Penulis                          : Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc. Ed.
Penerbit                       : PT. Remaja Rosdakarya
Tahun Terbit                : 1999
Kota Terbit                  : Bandung
Halaman Buku             : xi + 252 halaman
Dalam karyanya Tilaar menyatakan bahwasanya proses pendidikan dapat dijadikan sebagai pemanusiaan manusia berbudaya Indonesia yang interaktif berkesinambungan, proses pemanusiaan berimplikasi bahwa pendidikan terjadi dalam interaksi antar manusia dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Interaksi terjadi dan berkembang dalam lingkungan alam (ekologis) maupun lingkungan sosial (sosial-politik-ekonomi) yang menghargai nilai-nilai kemanusiaan yang beradab (sebagaimana butir-butir Pancasila sila ke-2). Proses pemanusiaan tersebut merupakan suatu proses interkultural yang meliputi budaya lokal, nasional, dan internasional menuju kepada terciptanya masyarakat madani global yang bertumpu dari masyarakat madani Indonesia yang mempunyai cirinya yang khas yaitu kebudayaan Indonesia
Pendidikan dan kebudayaan mempunyai hubungan erat, memiliki suatu hal yang sama, yaitu nilai-nilai yang terdapat di dalamnya, yang mana keduanyapun dekat dan tidak dapat terpisah dari masyarakat. Tidak ada suatu proses pendidikan tanpa kebudayaan dan tanpa masyarakat, sebaliknya tidak ada suatu kebudayaan dalam pengertian suatu proses tanpa pendidikan. Proses kebudayaan dan pendidikan hanya dapat terjadi di dalam suatu masyarakat tertentu.
Melihat masa lampau, di masa orde baru, pendidikan telah tercabut dari akar budaya yang hidup. Nilai-nilai moral sebagai inti kebudayaan dan pendidikan telah direduksi menjadi indoktrinasi tanpa arti. Oleh karenanya pendidikan nasional di masa reformasi hingga sekarang perlu merumuskan visi pendidikan, yaitu membangun manusia dan masyarakat madani Indonesia yang memiliki identitas berdasarkan budaya Indonesia.
Buku ini memiliki kelebihan yang mana secara gamblang telah memamaparkan akan pentingnya pendidikan dalam memperkuat kebudayaan begitu juga bagaimana pentingnya kebudayaan yang akan membentuk pendidikan yang berkepribadian dalam rangka penciptakan masyarakat madani Indonesia sebagai masyarakat yang paripurna. Akan tetapi buku ini menggunakan gaya bahasa yang tinggi, sulit dipahami sehingga tidak cocok dibaca oleh semua kalangan.




PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEBAGAI PENDIDIKAN NILAI


A.    Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama sebagai salah satu bidang studi yang diberikan di sekolah dapat terdiri dari Pendidikan Agama Islam, Pendidikan Agama Protestan, Pendidikan Agama Khatolik, Pendidikan Agama Hindu dan atau Pendidikan Agama Budha. Pendidikan Agama Islam dicantumkan dalam urutan nomer satu dari delapan bidang studi yang harus diselesaikan dalam perencanaan program pengajaran di sekolah. Program studi Pendidikan Agama merupakan program wajib yang mesti diikuti oleh setiap anak didik pada sepanjang tahun selama bersekolah.
Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah, dicantumkan dalam kesatuan yang integral bersama-sama dengan bidang studi lainnya dalam satuan kurikulum untuk sekolah. Kurikulum bidang studi Pendidikan Agama ini dapat diperoleh dari Kepala Sekolah masing- masing dan selanjutnya pada bagian akhir buku Pendidikan Agama Islam di sekolah ini kurikulum tersebut dicantumkan pula.
Dengan demikian diharapkan setiap guru agama dapat mempelajari dengan sebaik- baiknya dan kemudian dapat menggunakannya sesuai dengan teknik pengajaran berdasarkan prinsip interaktif dan komunikatif dengan memperhatikan kegiatan murid, akan tetapi harus bertindak sebagai pembimbing dan dapat mengkoordinir lingkungan serta menyediakan fasilitas agar anak belajar sendiri.[1]
B.    Pengertian Pendidikan Agama Islam (PAI)
Pendidikan berasal dari kata “didik” yang berarti melatih atau mengajar. Sedangkan menurut istilah, pendidikan adalah usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai di dalam masyarakat dan kebudayaan. Agama berasal dari bahasa sansekerta yang berarti tidak kacau atau teratur. Agama dapat membebaskan manusia dari kekacauan yang dihadapi dalam hidupnya bahkan menjelang matinya. Menurut terminologi agama adalah suatu tata kaidah yang mengatur hubungan manusia dengan yang Agung.
Islam berasal dari Bahasa Arab berarti selamat sentosa. Sedangkan secara umum adalah agama yang disyari’atkan oleh Allah dengan perantaraan para Nabi dan Rasul-Nya, yang mengandung perintah-perintah, larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebahagiaan manusia di dunia dan diakhirat.
Agama Islam ialah agama yang ajaran-ajarannya bersumber kepada wahyu dari Allah Swt, yang disampaikan kepada umat manusia melalui Nabi Besar Muhammad Saw untuk kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah ilmu yang membahas pokok-pokok keimanan kepada Allah, cara beribadah kepada-Nya, dan mengatur hubungan baik sesama manusia, serta makhluk lainnya berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Pendidikan Agama Islam ialah usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik/murid agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran Agama Islam serta menjadikannya sebagai  way of life (jalan kehidupan).
C.    Tujuan Pendidikan Agama Islam
a.   Agar anak didik / murid dapat memahami ajaran islam secara elementar ( sederhana ) yang bersifat menyeluruh, sehingga dapat digunakannya sebagai pedoman hidup dan amalan perbuatannya, baik dalam hubungan dirinya dengan Allah Swt, hubungan dirinya dengan masyarakat, maupun hubungan dirinya dengan alam sekitar.
b.   Membentuk pribadi yang berakhlak mulia, sesuai dengan ajaran agama Islam.
D.    Fungsi Pendidikan Agama Islam
a.   Menumbuhkan habit-forming (pembentukan kebiasaan) dalam melakukan amal ibadat serta akhlak yang mulia.
b.   Mendorong tumbuhnya iman yang kuat.
c.   Mendorong tumbuhnya semangat untuk mengolah alam sekitar sebagai anugerah Allah Swt kepada manusia.
Pendidikan Agama pada umumnya dan Pendidikan Agama Islam pada khususnya adalah sangat diperlukan dalam membentuk manusia-manusia pembangunan yang ber-Pancasila dan untuk membentuk manusia Indonesia yang sehat baik jasmani maupun rohaninya.[2]
E.     Pendidikan Karakter
Pendidian karakter merupakan sebuah istilah yang semakin hari semakin mendapatkan pengakuan dari masyarakat Indonesia saat ini. Terlebih dengan dirasakannya berbagai ketimpangan hasil pendidikan dilihat dari perilaku lulusan pendidikan formal saat ini. Semisal korupsi, perkembangan seks bebas pada kalangan remaja, narkoba, tawuran, pembunuhan, perampokan oleh pelajar, dan pengangguran lulusan sekolah menengah dan atas. Semuanya terasa lebih kuat ketika negara ini dilanda krisis dan tidak kunjung beranjak dari krisis yang dialami. Istilah pendidikan karakter masih jarang didefinisikan oleh banyak kalangan. Kajian secara teoritis terhadap pendidikan karakter bahkan salah-salah dapat menyebabkan salah tafsir tentang makna pendidikan karakter. Beberapa masalah ketidaktepatan makna yang beredar di masyarakat mengenai makna pendidikan karakter dapat diidentifikasikan di antaranya sebagai berikut :
a.      Pendidikan karakter: mata pelajaran agama dan PKn, karena itu menjadi tanggung jawab guru agama dan PKn.
b.     Pendidikan karakter: mata pelajaran pendudukan budi pekerti.
c.      Pendidikan karakter: pendidikan yang menjadi tanggung jawab keluarga, bukan tanggung jawab sekolah.
d.     Pendidikan karakter: adanya penambahan mata pelajaran baru dalam KTSP, dsb.
Berbagai makna yang kurang tepat tentang pendidikan karakter itu bermunculan dan menempati pemikiran banyak orang tua, guru dan masyarakat umum. Pendidikan karakter menurut Ratna Megawangi (2004:95), sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang positif kepada lingkungannya.[3]
Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam ligkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan setiap akibat dari keputusannya. Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agam, hukum, tata krama, budaya, adat istiadat, dan estetika. Karakter adalah perilaku yang tampak dalam kehidupan sehari-hari baik dalam bersikap maupun dalam bertindak.
Karakter dipegaruhi oleh hereditas. Perilaku seorang anak sering kali tidak jauh dari perilaku ayah atau ibunya. Dalam bahasa jawa dikenal istilah“ kacang ora ninggal lanjaran “ (Pohon kacang panjang tidak pernah meninggalkan kayu atau bambu tempatnya melilit dan menjalar). Kecuali itu lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam ikut membentuk karakter. Mengacu pada berbagai pengertian dan definisi karakter tersebut di atas, serta faktor-faktor yang dapat mempengaruhi karakter, makna karakter dapat dimaknai sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian yang sederhana pendidikan karakter adalah hal positif apa saja yang dilakukan guru dan berpengaruh kepada karakter siswa yang diajarnya. Pendidikan karakter adalah upaya sadar dan sungguh-sungguh dari seorang guru untuk mengajarkan nilai-nilai kepada para siswanya (Winton, 2010).[4]
F.     Fungsi Edukatif Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Agama Islam (PAI) mempunyai beragam fungsi atau kegunaan yang sangat luas. Salah satu fungsi terdepan dalam Pendidikan Agama Islam adalah dalam bidang edukasi yaitu Pendidikan Agama Islam selalu mengajarkan dan membimbing semua umatnya agar senantiasa mampu menonjolkan dan mempraktekkan sikap maupun segala jenis tindakan yang sesuai dengan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, ia juga mendorong setiap individu untuk selalu patuh dan taat serta mengimplementasikan ajaran dan perintah agama.
G.    Pembentukan Karakter Anak Melalui Fungsi Edukatif PAI
Pendidikan Agama Islam sejak dini akan sangat efektif dalam segi edukatifnya untuk mempengaruhi pembentukan karakter anak yang baik. Ini karena di dalam sebuah ruang lingkup keluarga dibutuhkan keharmonisan dan keseimbangan antar anggotanya. Peran pribadi yang senior diharuskan memberi pelajaran kepada junior dan sesuai dengan porsinya sehingga dapat membawa angin perubahan menuju sesuatu yang positif.
Dipandang dari segi keterkaitannya, pembentukan karakter dasar seorang anak sejak dini tentu sangat erat hubungannya dengan apa yang diajarkan dalam sisi edukatif Pendidikan Agama Islam. Telah begitu banyak bukti dan realita yang benar-benar membuktikan secara nyata bahwasannya pembelajaran Pendidikan Agama Islam berperan besar dan mayoritas mampu mengantarkan tiap individu agamis menghadapi kesulitan dan problematika yang ada dengan arif dan bijaksana.



[1]Rachman Shaleh, Pendidikan Agama Islam Di Sekolah Dasar, ( Jakarta : Bulan Bintang) Hlm. 12
[2]Ibid, Pendidiakan Agama ...Hlm. 14
[3]Dharma Kesuma,dkk.  Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011), Hlm. 4
[4]Muchlas Samami & Hariyanto, Konsep dan model pendidika karakter, (Bandung : PT Remaja Rosdakarya, 2011), Hlm. 43